Ada dua sistem komunikasi di kantor:
Dan yang kedua… selalu lebih cepat.
Aku baru duduk di meja ketika suasana terasa berbeda. Terlalu banyak senyum. Terlalu banyak lirikan.
Ini mencurigakan.
Di pantry, aku mendengar bisikan pelan.
“Eh, kamu lihat nggak kemarin?”
“Iya, duduknya deket banget.”
Aku hampir menjatuhkan sendok.
Duduk bersebelahan sekarang jadi bahan diskusi?
Aku menuang kopi sambil pura-pura tuli. Padahal telingaku kerja lembur.
“Kayaknya cocok.”
“Ah, masa sih?”
Aku tersedak. Batuk kecil. Pura-pura wajar.
Saat kembali ke meja, grup chat tim ramai.
“Guys, gosip hari ini rame.”
“Ada yang baru nih.”
“Bukan aku, ya.”
Aku menatap layar. Jantungku ikut update.
Rasya lewat. Santai. Tidak terlihat panik. Tidak sadar.
“Kenapa semua orang aneh hari ini?” tanyanya.
Aku menatapnya lama. “Kamu beneran nggak tahu?”
“Tahu apa?”
Aku menyerah. “Nggak jadi.”
Siang hari, gosip naik level.
Ada yang “nggak sengaja” duduk di dekat kami. Ada yang pura-pura lewat. Ada yang terlalu sering senyum.
Kami seperti episode baru sinetron kantor. Tanpa skrip. Tanpa izin.
“Kalau kita batuk barengan, besok dikira jadian,” kataku pelan.
Rasya tertawa. “Berarti jangan batuk.”
Sore hari, gosip mulai basi. Target baru muncul. Hidup kantor lanjut seperti biasa.
Aku menghela napas lega.
Kesimpulan hari ini:
di kantor, gosip lebih cepat dari deadline.
Dan duduk bersebelahan bisa jadi isu nasional.
Aku pulang dengan satu tekad:
besok aku duduk di ujung ruangan.