Pagi itu dimulai dengan hal sederhana:
bos bilang, “Ini harusnya gampang.”
Kalimat paling berbahaya di kantor.
Yang katanya “gampang” itu datang dengan 12 poin revisi, 3 deadline berbeda, dan satu kalimat penutup: segera, ya.
Kami saling pandang. Tidak ada yang tertawa. Tapi semua tahu, ini serius.
“Gampang kok,” bisikku ke tim.
“Gampang bikin stres,” balas mereka.
Kami mulai kerja cepat. Terlalu cepat. Kopi dingin. Chat internal panas.
Jam makan siang lewat tanpa sadar. Tidak ada yang bergerak. Hanya mata yang semakin lelah.
Tapi entah kenapa, candaan tetap muncul.
“Kalau aku hilang, tolong cari aku di bawah meja,” kata seseorang.
“Kalau aku hilang, aku sengaja,” sahut yang lain.
Aku tertawa, lalu menguap.
Meeting susulan muncul. Dadakan. Tanpa agenda jelas.
Bos bicara panjang. Nada naik. Kami mengangguk.
Di dalam kepala, aku sudah hitung berapa kali hari ini aku ingin resign.
Angkanya dua digit.
Sore hari, pekerjaan hampir selesai. Hampir.
Bos lewat dan berkata, “Ini masih bisa lebih baik.”
Kalimat itu seperti Ctrl + Z untuk seluruh tenaga.
Kami saling pandang lagi. Kali ini lelahnya nyata.
Di pantry, kami berdiri tanpa banyak bicara. Tidak ada tawa keras. Hanya senyum kecil.
“Capek, ya,” kataku.
“Iya,” jawab mereka serempak.
Aku pulang dengan kepala penuh. Masih bisa bercanda. Masih bisa ketawa.
Tapi aku tahu
tekanannya naik.
Dan komedi… mulai jadi cara bertahan, bukan sekadar lucu.